Pihak penyelenggara SEA Games 2025 di Thailand menghadapi situasi yang cukup menghebohkan terkait dengan cabang olahraga esports. Kasus ini berpusat pada atlet bernama Napapat “Tokyogurl” Warasin, yang didiskualifikasi karena pelanggaran serius yang dilakukan selama pertandingan, sehingga menimbulkan sorotan luas di kalangan penggemar dan pelaku industri esports.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang integritas dalam dunia kompetisi esports, yang semakin berkembang pesat. Dengan banyaknya mata yang tertuju, akhirnya tim penyelenggara terpaksa mengambil langkah tegas demi menjaga citra dan kredibilitas kompetisi yang mereka jalani.
Dalam penyelidikan yang dilakukan, diketahui bahwa Tokyogurl tidak hanya menggunakan software ilegal, tetapi juga terlibat dalam praktik joki. Tindakan ini menimbulkan kecemasan akan keadilan dalam pertandingan dan berpotensi merusak reputasi tidak hanya dirinya, tetapi juga atlet lain yang telah berjuang keras untuk mencapai level tinggi dalam kompetisi ini.
Proses Diskualifikasi Tokyogurl dalam SEA Games 2025
Proses diskualifikasi Napapat “Tokyogurl” Warasin dimulai setelah pengamatan yang ketat oleh panitia dan Federasi Esports Thailand (TESF). Penggunaan software pihak ketiga yang tidak sah menjadi alasan kuat di balik keputusan ini, dengan aturan yang ditegaskan pada pasal 9.4.3 mengenai perangkat ilegal dalam permainan.
Keputusan untuk mengeluarkan Tokyogurl dari kompetisi diambil setelah beberapa bukti yang menunjukkan bahwa ia melakukan pelanggaran berat dalam pertandingan. Selain itu, aspek etika pun menjadi pertimbangan penting, terutama ketika Tokyogurl tertangkap kamera mengacungkan jari tengah saat pertandingan berlangsung.
Seiring dengan keputusan tersebut, Tokyogurl juga dicopot dari daftar tim nasional dan tim Talon TH. Langkah ini diambil dengan harapan agar ke depan, hal serupa tidak terulang kembali dan semua atlet dapat bermain dengan integritas yang tinggi.
Dampak Keputusan Terhadap Tim dan Kompetisi SEA Games
Keputusan tersebut langsung berdampak pada perjalanan tim Arena of Valor Thailand di SEA Games 2025. Tim harus menjalani pertandingan tanpa salah satu anggotanya yang dianggap kunci, dan tampaknya ini mempengaruhi mental serta dinamika tim secara keseluruhan.
Tak lama setelah pengumuman diskualifikasi, diketahui bahwa Laos berhasil melaju ke final dengan status walkout kemenangan atas Thailand. Situasi ini menunjukkan betapa besar konsekuensi yang dihadapi tim setelah skandal tersebut, termasuk perubahan mendasar dalam jalannya kompetisi.
Di final, Laos, meskipun berhasil mencapai tahap ini dengan cara yang tidak biasa, akhirnya harus mengakui keunggulan Vietnam yang tampil dominan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun hadirnya kontroversi, sepak terjang dari negara lain tetap harus dihargai.
Pentingnya Integritas dalam Dunia Esports
Integritas dalam esports sangat penting, karena banyak pihak yang terlibat dan berinvestasi dalam industri ini. Melihat reaksi yang muncul setelah kejadian ini, menjadi jelas bahwa pelanggaran semacam ini bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap kompetisi yang seharusnya bersih dan adil.
Presiden Federasi Esports Thailand, Santi Lohthong, menggarisbawahi pentingnya menjaga integritas, dan segera menarik seluruh timnas AoV Women’s Thailand dari ajang SEA Games 2025. Permintaan maaf yang disampaikan olehnya menunjukkan keseriusan dalam menangani isu ini dan harapan untuk memperbaiki citra di mata publik.
Tindak lanjut atas pelanggaran ini juga menjadi pengingat bagi atlet lain untuk tidak terlibat dalam praktik curang demi kemenangan. Di era di mana esports semakin diakui, menjaga reputasi yang baik menjadi prioritas yang harus dijaga oleh setiap individu yang terlibat.
